Tampilkan postingan dengan label galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label galau. Tampilkan semua postingan

Distracted

Ada suatu "perasaan" yang mengganjal, entah bagaimana cara mengekspresikannya.

Cerita, pada siapa?
Menangis? Kusudah lelah.

Bosan? Tidak.

Tepatnya bukan itu.

Bukan kebosanan yang dirasakan. Mungkin seperti, hm, bagaimana caranya membuang waktu dengan hal yang bermanfaat. Saking bermanfaatnya hingga bisa membuatmu lupa akan kegelisahan hati yang sesungguhnya nggak penting untuk dipikirkan. Tapi yaa gimana, tetap kepikiran juga ujung-ujungnya.

Haha.
Dusta aja terus.

Itulah mengapa saya tidak berani berjanji. Karena saya suka mengingkari janji itu sendiri. Tanpa sadar.

Jujur saja, manusia terkadang hanya butuh didengarkan. Hanya butuh dimengerti.

Tanpa ikut dicampuri.

23 Juni 2018.
22:03.
di kampung halaman tercinta.

Bahkan ketika pulang pun masih bisa merasa galau juga.

Ketika di perantauan merasa lelah jadi ingin pulang. Ketika sudah pulang tapi masih bisa merasa dilema juga, harus bagaimana?

Ketika....

Ketika calon gebetanmu dideketin cewek lain. Apa yang harus kamu lakukan?

- mundur
Resiko: mungkin nyesek, tapi harus ikhlas. Tapi yaaaa berat :"

- lanjutin
Konsekuensinya ya harus bisa bersaing sehat.

Intinya apapun pilihannya, kalo udah takdir jodoh pasti bakal balik lagi.

Walaupun saya sendiri nggak yakin bakal ada yang mau...

Saya cuma pengen menikmati rasa-rasa ini aja kok. ^^

Niat Buruk

Saya pernah niat nggak mau ngampus hari Selasa. Entah kenapa males banget, apalagi kalo ngampus pagi (efek Senin ngampus agak siangan sih, malah kadang libur).

Gara-gara niat gitu, Seninnya dikasih sakit. Selasa disuruh istirahat.

Entah antara senang ato nyesel. Senang gara-gara beneran nggak ngampus, tapi nyesel kenapa harus dikasih sakit.

Yeah, mungkin emang sengaja dikasih sakit, biar kedepannya nggak kepikiran buat bolos. Sakit kan penggugur dosa :" (bolos ngampus = nggak nambah ilmu. Padahal menuntut ilmu wajib hukumnya).

Apaapa

Udah lama nggak update. Banyak banget yang pengen ditulis, tapi lagi males-malesnya.

Duh, saya gabisa mupon. :"

Iya. Benar.

Udah, gitu aja yak.

Karena Kami Berbeda, dan Berbeda itu Indah

Padahal baru beberapa waktu lalu ngepost, sekarang udah ngepost lagi. Nggak jauh-jauh sih dari topik awal.

Pas lagi denger lagu di handphone satunya, sambil main game di handphone yang saya gunakan untuk ngeblog ini, trus lagunya mulai ngeplay dari Last Child yang judulnya "Indahkah Perbedaan", aktivitas saya yang lagi main handphone tadi langsung saya hentikan. Entah kenapa lagu ini menarik untuk didengarkan. Mungkin karena memang cocok dengan keadaan saya saat ini, yang di postingan sebelumnya (kalau anda peka) lagi deket sama cowok tapi ya karena perbedaan besar ini membuat saya ragu apa saya yakin dengan jalan yang saya pilih, namun karena sudah berjalan lumayan lama (untuk kategori "pedekate") saya nikmati aja dulu hubungan ini.



Faith

Perbedaan ini terlalu besar, tak bisa dipersatukan. Kalau memang harus berpisah, mengapa kami dipertemukan?

Kau tahu bahkan tak merestui, tetapi mengapa engkau biarkan rasa ini tumbuh begitu saja?

Wahai engkau Sang Maha Membolak-balikkan hati, ijinkan aku untuk menyayanginya, layaknya menyayangi semua ciptaanMu. Dia menyembahMu, seperti aku menyembahMu, namun dengan cara yang berbeda.

Aku siap menghadapi apapun yang terjadi, termasuk jika kau balikkan hati ini, asal jangan kau balikkan hatiku padaMu.


Katanya .....



katanya cinta akan datang kalau terbiasa.
tapi kenapa disaat sudah terbiasa pun cinta tak juga datang?

kalau yang "mudah" saya rasakan adalah jatuh-cinta-pada-orang-yang-salah,
dan saat ini saya tidak merasakan apapun padahal sudah sering bersama,
apakah yang (akan) saya rasakan saat ini adalah cinta-pada-orang-yang-tepat?

badmoodbadday

"kok mau-maunya aja gue nangis gara-gara dia?" kan bego banget.

iya, gue bego, kenapa baru nyadar.

gue masih sakit hati, masih kesal, masih dongkol, dan sejenisnya.

siapa sih yang nggak sakit hati saat pekerjaannya dijelek-jelekin?

gue ngerasa ini amanah gue, jadi apapun yang terjadi gue harus tanggung jawab. termasuk dihina sama orang yang nggak suka sama apa yang gue kerjakan.

tapi entah kenapa kalo sama manusia ajaib ini, selain bisa bikin gue kesel, juga bisa bikin gue nangis.

kenapa gue nangis? karena gue nggak tau lagi gimana cara ngadepin orang kek gitu.

selain ngehina pekerjaan gue, dia juga udah ngejatuhin harga diri gue. ya gue masa bodo sih. buat apa gue berubah jadi yang dia inginkan kalo sekeliling gue masih mau menerima kehadiran gue yang sekarang.

tapi sekesel-keselnya gue sama dia, gue lebih kesel kalo ada yang ngerasain apa yang gue rasain. yang nyakitin gitu lah ya.

gue nggak suka. menurut gue ya cukup gue aja yang sakit, yang laen jangan. tapi udah terlanjur, orang laen juga ngerasain.

yaaa, salah dia juga sih kenapa mancing emosi orang.

gue ngerti dia (katanya) maksudnya baik, tapi cara penyampaiannya yang nggak bisa gue terima. kalo bisa ya jangan bawa-bawa tugas gue dong. kalo dendam pribadi yaudah sampein aja langsung. gue cewek, gue ngerti lah.

mungkin gue bisa dikategorikan sebagai "Musuh Nomor Satu"nya dia.

ah, biarkan dia dewasa dengan sendirinya.

Bye-bye My Moodboster

awalnya muncul begitu saja saat saya lagi ngadmin. entah kenapa followers yang satu ini menarik perhatian saya. kemudian saya stalk dan menemukan suatu "bukti" yang jujur saja menohok banget.

karena untuk masalah yang satu ini nggak saya ceritakan pada siapapun - dan saya sangat butuh pelampiasan - akhirnya dengan brutal dan tega pun saya mengupdate tentang perasaan yang saya alami di LINE. merasa belum puas, saya update di Twitter. kalo galau banget pasti saya tuangkan di Twitter. kenapa? karena hanya Twitter satu-satunya sosmed yang nggak dimiliki orang tua saya.

yeah, kalian boleh bilang saya anak yang tega. tapi terkadang kalian juga butuh pelampiasan dimana pada saat itu kalian tidak ingin orangtua kalian tahu, kan? saya pernah bikin pm yang membuat orangtua saya panik, padahal saya biasa-biasa saja, dan saya hanya membalas 'ndak apa-apa'.

setelah puas dan lega, entah kenapa saya juga ingin ngeblog. mungkin kalau postingan ini saya baca lagi, saya akan teringat kembali betapa sakit hatinya seorang cewek-tidak-peka terhadap seauatu yang sebenarnya biasa saja tapi bisa membuat (hanya) dia yang baper. mungkin ini memang balasan akibat dia yang nggak peka, akhirnya dipehapein sama cowok yang sudah memberikan harapan (entah saya yang kegeeran ato emang iya kalo dia ngasih harapan), tapi dia duluan yang meninggalkan saya. saya nggak salah, dong. :3

setelah bikin tweet saya berhenti ngestalk. saya bersyukur banget bisa menemukan fakta bahwa dia sebenarnya baik-baik saja. yaaa, walaupun baik-baiknya itu bukan karena saya, saya juga nggak maksa. saya tahu dengan status cewek-tidak-peka saya pun nggak bisa membahagiakannya.

dia baik. amat baik. saya nggak bisa membalas kebaikannya. saya nggak mau terlalu mempermainkan kebaikannya. saya ikhlas dia pergi kemanapun yang dia inginkan. serius.

saya hanya bisa berharap, semoga kita semakin jarang bertemu, karena move on itu butuh waktu.

dan itu berarti, saya harus mencari moodboster baru.
semangat qaqaaaaa~